Beranda » Bali Selayang Pandang

Bali Selayang Pandang


SELAYANG PANDANG

Bali yang dikenal dengan sebutan Pulau Dewata adalah tujuan wisata paling terkenal di Indonesia dan # 1 pada tahun 2017. Bali adalah bagian dari Kepulauan Sunda Kecil, ibukotanya adalah Denpasar. Iklimnya tropis seperti daerah lain di Indonesia.

Secara geografis, provinsi Bali berbatasan dengan Provinsi Jawa Timur dan Selat Bali di Barat, Laut Bali di Utara, Samudra Hindia di Selatan, dan Selat Lombok di Timur.
Selain Kuta yang memang terkenal di kalangan peselancar, Bali memiliki banyak tujuan wisata lainnya:

Inilah beberapa tempat yang menjadi tujuan wisata, baik wisata pantai atau sekedar tempat bagi para wisatawan untuk beristirahat. Saat ini Seminyak dan Canggu berkembang dan bertujuan untuk menjadi tujuan wisata # 1 di Bali. Kedua wilayah ini memiliki apa yang diinginkan turis modern saat mereka memutuskan untuk berkunjung ke Bali, seperti budaya lokal, ketenangan, kemewahan, tujuan "sehat", butik, selancar dan bahkan tempat pesta. Itulah sebabnya Seminyak dan Canggu menjadi tempat terbaik untuk bisnis dan investasi.

SUKU DAN BUDAYA

Suku Bali dibagi menjadi dua. Yakni suku Aga Bali yang merupakan penduduk asli Bali, kebanyakan tinggal di kawasan Trunyan, dan suku Majapahit Bali yang merupakan keturunan Bali Hindu atau Bali dari kerajaan Majapahit.
Budaya Bali masih unik dan asli karena masyarakatnya sangat menjunjung tinggi hal ini. Budaya nenek moyang Bali masih belum banyak dipengaruhi oleh budaya lain. Seperti yang kita ketahui, banyak turis datang ke Bali setiap tahun (sekitar 4.928.000 turis pada tahun 2016), namun orang Bali memilih untuk tidak mengambil banyak pengaruh budaya barat atau lainnya dan tetap menjunjung tinggi budaya leluhur mereka.

AGAMA DAN KEPERCAYAAN

Sebagian besar penduduk di Bali menganut agama Hindu, sekitar 95% dari total penduduk di Bali. Sementara itu, 5% sisanya memeluk agama Islam, Kristen, Katolik dan Konfusianisme. Hindu mengajarkan tujuan hidup untuk mencapai keseimbangan dan kedamaian dalam kehidupan, kelahiran dan pikiran.
Orang Hindu percaya akan adanya satu Tuhan dalam bentuk konsep Trimurti, bentuk Brahmana (sang pencipta), bentuk Wisnu (pelindung dan pelestari) dan bentuk Siwa (sang penghancur).
Tempat untuk menyembah Tuhan orang Hindu di Bali disebut Pura. Semua orang Hindu Bali memiliki Puras di rumah mereka dan dalam berbagai bentuk, tergantung pada kondisi ekonomi masyarakat. Tempat pemujaan leluhur disebut Sangga. Kitab suci Hindu (kitab suci) Hinduisme adalah Veda dari India.

Menurut kepercayaan Hindu Bali, setelah kematian jenazah harus dibebaskan dari ikatannya dengan dunia dengan cara Ngaben. Ngaben adalah upacara pemakaman yang sudah biasa di Bali. Ini adalah ritual yang dilakukan untuk mengirim jiwa ke kehidupan selanjutnya. Dalam ritual ini, jenazah ditempatkan dalam posisi seperti orang yang sedang tidur, dan keluarga jenazah memang akan akan berasumsi bahwa ia hanya tertidur. Dalam upacara ini, tidak ada air mata karena jenazah tersebut tidak ada untuk sementara karena mengalami reinkarnasi atau akan menemukan perhentian terakhir di Moksha yaitu keadaan dimana jiwa telah terbebas dari reinkarnasi dan roda kematian. Upacara Ngaben juga merupakan simbol untuk memurnikan semangat almarhum.
Perayaan keagamaan Hindu Bali adalah Nyepi yang pelaksanaannya pada perayaan tahun baru saka pada tanggal 1 bulan 10 (kedasa), pesta Galungan, Kuningan, Saraswati, Tumpek Landep, Tumpek Uduh, dan Siwa Ratri.
Sebagian besar wisatawan baik wisatawan domestik maupun mancanegara berkunjung ke Bali untuk melihat atau bahkan terlibat dalam upacara keagamaan atau festival Hindu di Bali.

ORGANISASI SOSIAL

Garis keturunan keluarga dalam masyarakat Bali mengarah pada sistem patrilineal. Sementara itu, sistem kasta yang masih banyak terdapat di Bali akan sangat mempengaruhi proses pernikahan. Seorang wanita dengan kasta yang lebih tinggi tidak diperbolehkan menikahi pria dengan kasta di bawahnya, karena akan ada penyimpangan dan akan membuat malu keluarga serta menjatuhkan pamor seluruh kasta.
Saat ini kami menemukan banyak kasus seperti ini dari keluarga yang lebih berpikiran terbuka. Bila keluarga tidak berpikiran terbuka untuk menerima ini, mereka akan meninggalkan anak perempuannya dan memutus hubungan dengannya.

Ada satu kesatuan kehidupan masyarakat Bali yang meliputi 2 indera desa, yaitu Desa Adat (pemerintahan adat) dan Desa Dinas (pemerintahan administratif). Keduanya merupakan satu kesatuan wilayah. Desa Adat lebih berkaitan dengan masalah agama atau agama, Sementara Desa Dinas adalah unit administratif Pemerintah. Kegiatan Desa Adat terkonsentrasi di bidang upacara tradisional dan keagamaan, sementara Desa Dinas terkonsentrasi di bidang administrasi, pemerintahan dan pembangunan.
Adat (aturan tradisional) bagi mereka yang menetap di Bali setelah menikah mempengaruhi hubungan kekerabatan dalam masyarakat. Ada dua jenis aturan tradisional yang sering berlaku di Bali: Adat virilocal adalah kebiasaan yang membenarkan pasangan pengantin baru untuk tinggal di sekitar kediaman keluarga suami, dan adat neolokal adalah kebiasaan yang menentukan pasangan pengantin baru untuk menetap di tempat tinggal baru. Penduduk Bali memiliki sistem desa adat yang bernama Banjar. Masing-masing Banjar memiliki kepala suku dengan gelar Kelihan. Tugas Kelihan adalah untuk melayani segala urusan di bidang kehidupan sosial dan keagamaan, namun terkadang Kelihan juga harus memecahkan masalah seperti hukum adat negeri, dan urusan pemerintahan.

BAHASA

Kebanyakan orang Bali berbicara bahasa Bali dan bahasa Indonesia. Kebanyakan orang Bali memang bilingual atau trilingual. Bahasa Inggris sebagai bahasa ketiga dan juga bahasa asing lainnya sangat penting bagi masyarakat Bali, efek dari industri pariwisata yang ada.
Bahasa Bali dibagi dalam dua jenis: bahasa Aga adalah bahasa Bali dengan pengucapan yang lebih kasar yang biasanya digunakan oleh kasta Sudra. Bahasa Bali Majapahit adalah bahasa pengucapan yang lebih halus dan lembut yang digunakan oleh kasta Brahmana, Ksatria dan Waisya.

SENI

Bali tak lepas dengan berbagai kesenian di dalamnya. Bahkan, sebagian besar mata pencaharian orang Bali bergelut di bidang seni seperti seni pahat, lukis, musik, drama tradisional dan tari. Seni tari di Bali umumnya terbagi dalam tiga kategori. Tarian Wali adalah pertunjukan tari yang hanya tampil dalam acara sakral. Tarian Bebali adalah pertunjukan tarian yang biasanya tampil dalam upacara dan juga sering ditunjukkan untuk menyambut pengunjung. Tarian Balih-Balihan adalah seni tari yang hanya untuk pertunjukan hiburan. Beberapa pertunjukan tarian terkenal bagi wisatawan adalah Tari Kecak dan Barong.
Musik tradisional Bali sebenarnya memiliki kesamaan dengan musik tradisional di daerah lain di Indonesia. Tapi ada beberapa karakteristik unik dalam teknik bermain dan komposisi seperti dalam bentuk kecak. Beberapa alat musik tradisional di Bali adalah Gamelan, Jegog, dan Genggong.

MASAKAN TRADISIONAL

Ada begitu banyak makanan tradisional Bali dan seperti makanan khas Indonesia, makanan khas Bali juga menggunakan berbagai rempah-rempah yang dicampur dengan sayuran segar dan daging atau ikan untuk memasaknya. Makanan Bali menunjukkan tradisi asli namun juga memiliki cita rasa pengaruh dari masakan daerah Indonesia lainnya, Cina dan India.

Untuk rempah-rempah, masakan Bali banyak menggunakan lengkuas, bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, dan serai. Bumbu Bali mayoritas dibuat dengan lada putih dan hitam, ketumbar, jinten, cengkeh, pala, biji wijen, dan kemiri. Gula aren, pasta ikan, dan basa gede juga lumrah digunakan. Basa gede atau basa rajang adalah bumbu bumbu khas Bali, merupakan bumbu yang banyak digunakan di masakan khas Bali. Bahan basa gede meliputi bawang putih, cabai merah, bawang merah, pala, jahe, kunyit, gula aren, jinten, tempurung dan daun salam.

Beberapa masakan tradisional Bali yang terkenal adalah:

RUMAH ADAT

Rumah adat Bali merupakan penerapan dari filosofi dan kepercayaan masyarakat Bali sendiri.
Ada tiga aspek yang harus diaplikasikan di dalamnya. Aspek Pawongan (membina hubungan harmonis antar sesame manusia), aspek Pelemahan (lokasi atau lingkungan) dan aspek Parahyangan (setelah kematian). Orang Bali percaya bahwa dinamika kehidupan bisa tercapai jika ada realisasi hubungan harmonis antara ketiga aspek ini. Oleh karena itu, pembangunan rumah tradisional Bali harus mencakup aspek-aspek yang dikenal dengan Tri Hita Karana.

Secara umum, arsitektur tradisional Bali selalu dipenuhi dengan ukiran dan warna natural. Selain sebagai hiasan mereka juga menafsirkan ini sebagai ungkapan rasa syukur kepada pencipta, begitu pula simbol dan patung ritual.
Rumah adat Bali pada umumnya memiliki ruangan yang dipisahkan menjadi banyak bangunan kecil di satu area yang disatukan oleh pagar sekitarnya.
Bali memiliki arsitektur khas yang muncul dari tradisi, kepercayaan spiritual dan aktivitas spiritual masyarakat Bali sendiri. Itu diwujudkan dalam berbagai bentuk fisik bangunan yang ada seperti rumah, Pura, Banjar, dll.