Beranda » artikel » Mepantigan

Mepantigan


Mepantigan adalah bentuk seni bela diri yang menggabungkan unsur pertarungan, drama, tari, dan musik gamelan. Mepantigan berasal dari kombinasi seni bela diri tradisional Bali seperti Sitembak, 7 Harian, Depok (biasanya disebut Tengklung), dengan Tae Kwon Do dan Capoeira. Para petarung Mepantigan mengenakan pakaian tradisional Bali yang terdiri dari sarung dan hiasan kepala yang disebut udeng. Pertunjukan ini bisa diadakan di pantai atau di area terbuka yang tersedia. Di Ubud, mereka menggunakan sawah berlumpur sebagai area bertanding, maka dari itu Mepantigan ini juga dikenal dengan sebutan gulat lumpur.

Perbedaan Mepantigan dibandingkan dengan jenis seni bela diri lainnya adalah bahwa di Mepantigan akan ada banyak kuncian dan bantingan. Menurut Putu Witsen Widjaya, salah satu pendiri dan master senior Mepantigan, praktisi mepantigan dapat berkembang sebagai manusia yang menghindari kekerasan, memprioritaskan empati dan selalu menghormati tiga harmoni; manusia dan manusia, manusia dan alam, manusia dan Tuhan.

Pertandingan ini terdiri dari 2 pejuang dan 1 wasit, diikuti oleh beberapa "hakim" yang duduk dalam formasi bulat di tepi sawah berlumpur. Satu pertandingan membutuhkan 2 putaran, masing-masing putaran berlangsung 3 menit. Meski tak banyak orang yang tahu jenis bela diri ini, sebenarnya Mepantigan sudah ambil bagian dalam kejuaraan dunia pada Agustus 2010 bersama 6 negara lainnya: Denmark, Jepang, Korea, Inggris, Swedia, dan Belanda.

Anda bisa menyaksikan atraksi Mepantigan setiap Kamis malam di Arma Museum Ubud atau anda bisa menghubungi Pondok Mepantigan Bali jika anda tertarik untuk mencoba kegiatan ini. Mepantigan meru[akan seni bela diri yang menyenangkan dan aman, baik untuk orang dewasa maupun anak-anak.

Lokasi: Jl. Pasekan, Pondok Batu Alam No. 1, Br. Tubuh Batubulan, Gianyar, Bali
Telp: 0361-297863
Email: putuwitsen@gmail.com